Aku, Cinta dan Mereka

Sayup sayup nyayian mengiringi aku menulis segala pemikiran yang terjadi padaku akhir – akhir ini. Dengan sedikit makiaan pada diriku sendiri, karena tak mampu menundukan yang seharusnya tunduk padaku. Nafsu engkau musuh besarku, sejak aku mengenal lawan jenisku…

Seharusnya aku tak perlu menyalahkan siapapun atau apapun karena semua terjadi pada tingkat kesadaranku. Cinta dan wanita ah.. 3 bulan ini bikin slalu pusing aku.. Hingga aku tak punya waktu untuk menikmati kebersamaan ku dengan teman sejatiku sepi.

Ampuni hamba Ya ALLAH, ampuni hamba…

UMurku yang dah gak muda lagi menurutku, seharusnya aku mampu untuk membedakan mana yang “tidak” dan mana ya “iya”. Hemm.. Mulai untuk menata diri lagi. Tapi apa mereka mau mengerti. Aku rasa tidak, dan percuma saja mencoba untuk membuat mereka mengerti, karena aku pernah mencobanya dan hasilnya.. ah…

Pada yang kisah hidupku yg pertama juga aku merasakan dilema ini, dan akhirnya aku mengambil keputusan untuk pergi dan sendiri. ah, masalah baru muncul. Aku marah pada diriku sendiri karena mendahulukan rasa tak tegaku dari pada nuraniku yang sesungguhnya. Dan hasilnya apa, aku semakin terjebak, terjerembab, dan dia tak mau melepaskanku maupun kulepas..

Maafkan aku wahai perempuan yang saat ini bersamaku, aku tak bisa mencintaimu dengan hatiku, aku tak bisa menyayangimu. Walau kutahu rasamu padaku. Semua ini untuk masa yang akan datang agar menjadi lebih baik. andaikan kau bisa mengerti dan membuat semua menjadi mudah.

Tapi pengertian sempitmu tentang semuanya menutupi semua cara semua jalan. Dan semoga masih kutemukan secercah cahaya untukku untuk menuju jalan yang terbaik untuk kita semua…

Komentar bertahan »

PUISI INDAH DARI RENDRA

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan
Bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya
Tetapi, mengapa aku tidak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yg bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh
Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja yang melukiskan bahwa itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yg cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, lebih banyak mobil, lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan.

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
“aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku” dan
menolak keputusan Nya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk
beribadah…
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

WS Rendra

www.dudung.net

Komentar bertahan »

Mulai berpindah arah…

Hemm… Kuhela nafas panjang untuk memulai memikirkan apa – apa yang salah dengan diri ini.. Berpikir lebih dalam untuk mengingat banyak hal yang salah yang harusnya aku bisa untuk menjadikannya baik bahkan menjadi lebih baik…. Bukan bermaksud takabur atau sombong.. Nggak ada yang bisa aku sombongkan, bukannya semua hal dan semuanya itu berasal dari Yang Segala Maha..

Teringat bahwa aku sudah sedikit berumur, Tidak terlalu tua menurutku.. Namun terasa tua, karena aku belum mampu menjadi baik dimata-NYA.. Bahkan mengatakan untuk menjadi yang terbaik saja aku tak bisa, karena aku tahu betapa busuknya diri ini… Pernah terdengar sebuah kisah remaja yang menghabiskan masa remajanya untuk mencintai Sang Maha Pencipta CInta.. hingga sebelum mengecap masa dewasa dia telah dipanggil menghadapNYA, dengan kematian yang khusnul khotimah.. Terlintas di pikiranku, apa jadinya jika aku mati hari esok,  atau mungkin 1 menit yang akan datang.. atau saat ini juga.. ahh.. aku nggak mampu membayangkan neraka yang akan menyambutku… Dosaku yang tak terhitung ini akankah diampuni, tapi aku yakin ALLAH Maha Pengampun.. Banyak sudah kurasakan kasih sayang-NYA disegala hal, namun apa yang kuberikan??? tidak ada!! tidak ada!! bahkan dosa yang kupilih menjadi teman..

Kesalahan terakhir yang jelas – jelas salah adalah tentang pengertianku tentang cinta itu.. Berpacaran, itu kata yang lebih jelas mewakili.. memang aku tak pernah berhubungan secara langsung karena jarak yang memisahkan.. Mengingat statusku yang dulu “Jomblo” tak tahu kenapa akhir – akhir ini aku merindukan itu kembali, kesendirian, dan teman lamaku “sepi”.. Bukankah syahwat itu lebih menguasai ketika behubungan dengan lawan jenis (akhwat).. Itu akan rahmat bagi yang sudah ijab, tapi bagiku kutakut menjadi laknat.. Walaupun baru kurasakan indahnya cinta yang telah diciptakan secara sempurna oleh-NYA.. Akahkah aku akan rela melepasnya.. entahlah, tapi kuyakinkan diri.. Andaikan ada seseorang yang lebih baik yang mau menggantikan posisiku saat ini untuk menjadi pasangan sang ikhwan (cewek).. akan kuberikan, bukan aku tak setia, bukan aku tak cinta, tapi ku hanya takut siksanya.. lebih baik aku menangis menahan rindu, dan gejolak cinta demi ketakutanku pada siksa RABB-ku daripada aku menyesali semuanya di akhirat nanti.. bukankan dalam hadist Rosulullah SAW pernah menjelaskan “Orang yang gagah (kuat/cerdas) adalah orang yang mampu menundukan hawa nafsunya serta biasa beramal untuk bekal kehidupan setelah mati. Sebaliknya orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya…”

Memang wajar akhwat (cowok) tertarik pada ikhwan (cewek), tapi untuk saat ini aku belum bisa.. Cita citaku untuk membahagiakan orang tuaku pun belum kulaksanakan.. Amanah untuk diriku sendiri untuk membalas setiap keringat ayahku dan setiap tetes ASI ibuku… Ah, aku jadi merindukan mereka…

Terucap Syukur atas semua yang terjadi padaku, diriku hanya pemain di panggung yang telah di scenariokan oleh Sang Maha Kuasa.. Bukankah Allah tak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan hambanya  dan Allah Maha Mengetahui yang kita tidak tahu.. Segala Puji BagiNYA..

Komentar (1) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.